Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Indahnya Bulan Suci di Tanah Air Tercinta


Assalammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh..

Apa kabar semua...
Semoga selalu sehat dan dalam lindungan-Nya.


Let me extend my warmest greetings to all you, my dearest friends and family. who observe Ramadhan, wherever you are. I hope it's not too late to do so considering that we have reached almost at the end of Ramadhan!

Every year, My family and I are blessed to be given the opportunity to once again observe this wonderful, holy month. We are joyfully welcoming Ramadhan, the auspicious month where our soul is spiritually awaken.. This is the very moment where forgiveness, humility and benevolence are the spirit we all keep within ourselves and reflect them on our daily deed. Hoping that it will make us a better person.

kesempatan beribadah di Masjid Istiqlal Jakarta saat Ramadhan 1445 H


We are super grateful that we can definitely enjoy Ramadhan this time at home. Kami sangat bersyukur karena bisa menikmati indahnya bulan suci di tanah air. Frankly speaking,  nothing beats the feeling and the vibe of being at home, especially for Ramadhan. Setelah menjalani ibadah puasa dan merayakan Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha di banyak negara, beneran tidak ada yang mengalahkan keseruan dan kebahagiaan saat merayakannya di Indonesia. 

But don't get me wrong ya. di mana pun berada, kami sekeluarga tentu saja senantiasa bersyukur dan berusaha untuk menjalankan ibadah di bulan suci sebaik mungkin. But then again, kalau boleh memilih, nuansa Ramadhan di tanah air Indonesia memang tidak tergantikan.

Saya ingin berbagi indahnya Ramadhan di Indonesia yang selama ini kami sekeluarga rasakan. Terntu saja, buat banyak teman - teman semua, menikmati Ramadhan setiap tahunnya akan selalu istimewa. Buat kami, semuanya terasa lebih istimewa karena kami memiliki kesempatan untuk merayakannya di temapt atau negara lain di mana muslim adalah kelompok yang minoritas.

Suasana dan dekorasi Ramadhan di salah satu pusat perbelanjaan besar di Jakarta, Indonesia
Satu hal yang pasti, indahnya Islam dan kebersamaan menjadi semangat terbesar di bulan suci ini, ditambah dengan berbaia niat baik dan keinginan untuk selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan, berbagi dengan sesama, saling mencintai dan mengasihi sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. 

1. Quality time dengan keluarga besar

Salah satu kenikmatan terbesar yang saya nikmati selama Ramadhan adalah menjalankan kebersamaan dengan keluarga tercinta. Mulai dari bangun sahur dini hari, makan bersama saat sahur maupun berbuka puasa, hingga beribadah bersama secara berjemaah dan mempersiapkan hidangan bersama. 

Kami yang biasanya sibuk jadi bisa duduk bersama di banyak waktu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya yang belum tentu bisa bertemu di hari - hari biasa, jadi bisa meluangkan waktu untuk berbuka puasa dan beribadah bersama. Karena kantor - kantor di Indonesia menerapkan jam kerja yang sedikit lebih pendek saat Ramadhan dibandingkan hari - hari biasa, kami pun bisa pulang lebih awal punya cukup waktu untuk berada bersama keluarga besar.


2. Beribadah dengan lebih khusuk

Alhamdulillah, saat di tanah air, saya dan keluarga merasakan betul indahnya berbagai ibadah di bulan suci. Pastinya, kami bisa beribadaha dengan lebih khusuk karena memang suasana dan prasarana sangat mendukung, dan tentu saja karena hampir semuanya menjalankan ibadah yang sama. Suasana Ramadhan sangat terasa di mana - mana.

Panggilan sahur di pagi hari, merdunya adzan, indahnya murrotal pengajian dan gema beduk yang bertalu - talu menandakan waktu berbuka mungkin terdengar biasa saja untuk banyak orang, tapi kami sangat menikmatinya karena keindahan ini tidak selalu bisa kami nikmati saat tidak berada di Indonesia. 

menunaikan Dhuha di Masjid Is

Selain itu, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menjalankan puasa, godaan dari yang tidak berpuasa juga lebih sedikit. Lain halnya ketika hanya sebagian kecil dari kita yang berpuasa sementara yang lainnya tidak ketika berada di negara yang penduduknya banyak non-muslim. Walaupun sebenarnya juga hal ini tidak mengurangi semangat ibadah dan berpuasa, tapi kembali, suasana yang mendukung akan membuat kita bisa lebih fokus dan khusus beribadah pada-Nya.

3. Ziarah kubur ke orang tua dan keluarga tercinta

Saat berada jauh dari tanah air, kebiasaan ini yang tidak bisa kami lakukan. Namun saat berada di Indonesia, terutama jika kembali ke Lampung, kami berkesampatan untuk melakukan ziarah kubur ke orang tua dan anggota keluarga tercinta yang telah mendahului kita. 


Makam almarhum kakek dari almarhum papa yang kami kunjungi di Lampung


Tentu saja doa bisa dikirimkan kapan saja dan dari mana saja, namun ada perasaan yang berbeda saat bisa berada di kuburan Papa, ayah ibu mertua, kakek nenek dan keluarga besar yang telah mendahului kita semua. Ziarah kubur juga mengingatkan kita bahwa ada kematian yang akan menunggu kita semua, terlepas kita siap atau tidak. 

4. Menikmati masjid dan mushola, tempat beribadah umat Islam

Indahnya mendengar suara beduk bertalu - talu dan kumandang adzan di setiap waktu sholat menambah syahdunya bulan suci Ramadhan. Ini juga hal dasar yang begitu mudah ditemui di tanah air, namun menjadi kemewahan tersendiri saat berada di luar negeri karena memang tidak semua negara memperbolehkan berkumandangnya adzan sebagai penanda sholat bagi umat Islam. 


usai beribadah shalat Isya dan tarawih bersama keluarga besar di Jakarta

Ramadhan kali ini, saya berkesempatan beribadah di Masjid Istiqlal, beberapa mushola di hotel dan malls, serta tentu saja di rumah. Ada rasa bahagia dan nyaman tersendiri saat bisa menundukkan diri pada Sang Maha Segala di tempat - tempat ibadah ini. Senang melihat banyak tempat ibadah yang bagus, nyaman dan sejuk di Indonesia. Nah, saat berada di negara - negara lain yang pernah kami datangi dan tinggali, tempat ibadah bagi kaum muslim untuk publik memang tidak terlalu banyak.

5. Takjil War, Berburu makanan minuman untuk takjil 

Takjil War, atau saat berburu makanan dan minuman untuk takjil, menjadi salah satu keunikan yang dijumpai di Indonesia. Hampir bisa dipastikan, setiap daerah memiliki tempat- tempat dan pusat jualan makanan minuman takjil yang selalu ramai oleh para pemburunya, seperti saya.


hidup gorengaaaan... godaan setiap berbuka puasa 

Takjil sendiri, dari beberapa sumber terbuka yang saya baca, sebenarnya berarti mempercepat atau menyegerakan dalam berbuka puasa.  Takjil kerap diartikan sebagai makanan atau minuman berbuka, padahal artinya berbeda.
Well, yang pasti, keseruan untuk berburu makanan minuman takjil itu yang menjadi kegiatan khas saat Ramadhan. Aneka makanan dan minuman khas Indonesia maupun dari berbagai daerah dan belahan dunia lain bisa dijumpai. Banyak makanan dan minuman favorit yang diminati banyak orang, sehingga antriannya mengular. Tapi saat makanan dan minuman yang diinginkan bisa didapatkan, rasanya bahagia banget. 

Menu berbuka bersama di RM Patin H. Yunus saat di Pekanbaru, Riau

7. Kehebohan buka bersama atau Bukber

Kegiatan buka bersama atau biasa disebut bukber kerap menjadi bagian dari kegiatan di bulan suci Ramadhan. Memang waktu berbuka bersama kerap dihabiskan bersama keluarga dan teman - terman, termasuk biasanya dengan rekan - rekan kantor. We did the same thing, dan kali ini saya sempat melakukan buka bersama dengan rekan - rekan kantor dan juga kolega kerja. 

buka puasa bersama teman - teman sekantor


Walaupun tidak terlalu sering, tapi kegiatan buka bersama memang seru meskipun perlu persiapan yang baik. Paling tidak jika di Jakarta, perlu booking tempat jauh - jauh hari dan pastikan berapa orang yang akan ikut maupun menu yang akan dipesan. Bahkan di beberapa restoran, waktu untuk makan pun dibatasi. Karenanya kita harus betul - betul mempersiapkannya. Untuk keluarga, kami lebih memilih untuk melakukannya di rumah supaya bisa tenang berbuka dan juga melakukan ibadah sholat bersama.

Alhamdulillah kegiatan buka bersama lancar semua dan senang bisa berkumpul dengan banyak anggota keluarga besar yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

buka puasa bersama keluarga besar di Jakarta..

Pasti teman - teman juga punya banyak pengalaman berburu makanan dan minuman takjil serta buka puasa bersama kan? Boleh share di komentar ya..

Berbuka bersama dengan anekan makanan Korea halal di Jakarta, Indonesia


Itulah sebagian keseruan dan berkah Ramadhan yang bisa kami nikmati di tanah air. 
Beberapa tahun sebelumnya, saya sempat berbagi keseruan saat menunaikan ibadah puasa di negeri lain, terutama di Selandia Baru, New York dan Geneva,  di mana kaum muslim adalah kaum minoritas.

Berkah  Ramadhan di tanah air memang begitu banyak. Rasanya tak henti-hentinya kita perlu terus bersyukur dan bersyukur atas nikmat-Nya. Semoga semangat tinggi untuk beribadah dan berbagi kebaikan, serta refleksi diri atas segala tindak laku selama satu tahun berjalan, bisa terus dilakukan dan dipertahankan, meskipun bulan Ramadhan berakhir.

Semoga Ramadhan teman - teman menyenangkan dan izinkan saya dan keluarga menyampaikan Selamat Hari Raya Idul FItri, mohon maaf lahir dan batin.

Wassalamammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh




Marhaban yaa Ramadhan - Welcoming Ramadhan 1422H


Marhaban yaa Ramadhan 

Welcoming Ramadhan 1422H, the holy month for us all, moslem sisters and brothers. May Allah SWT, the Almighty God, give us all the strength, perseverance, and reinforced faith to follow His path.

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1422H kepada seluruh keluarga, teman, dan rekan - rekan yang menjalankannya. 

Tidak terasa Ramadhan kali ini menjadi bulan suci yang kedua di mana kita semua masih berjuang melawan penyebaran virus Corona atau Covid-19. Masih banyak penyesuaian yang harus kita lakukan meskipun banyak di antara kita yang telah mendapatkan vaksin. Karenanya kita semua harus tetap taat dengan 5 M dan menjaga kesehatan selama bulan puasa ini. 

Hanya pada-Mu ya Rabb...

Mungkin ini yang kerap menjadi halangan or tantangan yang lumayan berat  karena kita sangat terbiasa untuk berkumpul, menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang - orang tercinta di saat istimewa ini. Mulai dari buka puasa bersama - sama, ngabuburit, tarawih di masjid yang selalu ramai di saat Ramadhan, dan mudik, pulang ke rumah. Pulang ke tempat orang tua, yang tanpa terasa selalu kita rindukan. Pulang untuk sekedar memeluk mereka yang selama ini membuat hati kita hangat. Pulang untuk meminta maaf atas segala khilaf, yang kerap tidak terucap namun khidmat terasa saat mencium tangan orang tua tercinta. 


May Allah SWT give us mercy..

Aaaah, Ramadhan memang selalu membuatku sendu. Inilah indahnya bulan suci ini, karena hati dan jiwa menjadi tenang dan sejuk. Diri menjadi lebih teduh dalam menjalani hari. Karena cinta-Nya terasa teresonansi di dalam jiwa. 

Kita kerap alpa untuk bersyukur dan hanya mampu mengucap kerinduan dan dahaga kita akan cinta-Nya. Tanpa benar - benar melakukan apa yang harus kita lakukan untuk meraih ridho-Nya. Semoga kali ini kita bisa benar - benar jujur pada diri sendiri dan benar - benar berusaha mendapat berkah-Nya yang tak berbatas di bulan penuh rahmat. 

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan yang terbaik untuk kita semua. Aaamiiin Ya Rabbal Alamiin.





Puasa di Luar Negeri? Ini Dia Sensasinya



Ma, what time is it?
How long do we have to wait until we can eat?
What do I have to say at school if they ask me about Ramadhan?
Can I still join the gym?
Would you please make lemper and martabak for buka, ma?
Ma, is it true that crying is prohibited when we're fasting?
Do I really have to wake up at 2.30 AM, ma?

Hmmm... ini nanya atau interogasi, nak?
Pertanyaan Bo dan Obi, kedua anak saya, memang tidak pernah ada habis-habisnya, termasuk di bulan Ramadhan ini. 

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, sejak kami pindah ke New York City, kami mendapat rezeki puasa di musim panas.
Iya, musim panas!
Di mana siang sangat panjaaaaang dan cuaca pun hangat-hangat manja.
Belum lagi aneka 'godaan' karena sebagai kaum minoritas (walaupun saya ngga suka paka kata ini), lebih banyak mereka yang tidak berpuasa dibandingkan kaum muslim yang menjalani ibadah menahan diri, haus dan lapar ini.
Godaan bukan hanya masalah makan, minum, merokok (bagi sebagian orang), tapi juga menahan pandangan dan pikiran dari aneka orang yang lalu lalang dengan pakaian minim mereka misalnya. Dan ini bukan hanya didominasi kaum hawa saja lho, tapi juga kaum adam dengan body cihuy bak atlet yang asyik jogging or sekedar menikmati matahari yang bersinar cerah.

Wah, kok jadi bawa-bawa body? Hehehe.

So, kesimpulannya puasa di luar negeri kayak apa sih rasanya? 

Asyik? 
Seru? 
atau capek dan super lemes?

Rasanya nano-nano memang, at least for me.
Tapi sebenarnya tergantung di negara mana dulu kan ya.
Kalau masih di sekitar Indonesia, seperti negara-negara ASEAN dan sekitarnya, maka waktu sahur dan berbukanya mungkin sama dengan waktu di tanah air.

Tapi kalau on the other side of the world, ceritanya lain lagi.
Baik di belahan Selatan maupun Utara.
Ada yang waktu berpuasanya lebih pendek, ada juga yang waktu puasanya bak tak berujung seperti jomblo merindukan kekasih #eh.

Dan di hari-hari terakhir bulan suci ini, saat teman-teman di tanah air sudah sibuk dengan perjalanan mudik, buat kue, atau mencoba baju baru (dan saya masih sukses sidang tiada henti di United Nations >_<),  saya baru sempat berbagi coretan serba serbi puasa di New York City. 

Mau tau rasanya puasa di the Big Apple? 
Ini dia sensasinya !


Jam berbuka yang beragam, tergantung musim

Photo was taken from aljazeera.com

Jam berbuka yang beragam tergantung musim memang membedakan lamanya waktu berpuasa. Dan kalau sudah mendapat musim panas, selamat! 
Anda  mendapat bonus siang hari yang panjaaaaaang :). Seperti biasa, Greenland dan Swedia menjalani masa puasa yang panjang, sekitar 21 jam (oh my God!) dan Chile serta Australia yang hanya berlangsung selama 10 - 11 jam saja. 
Yang lainnya, in between. Dan NYC, mendapat berkah 16.5 jam saja.

Bedanya memang hanya sekitar 3 jam setengah dari lama berpuasa di Indonesia, but oh my... tambahan 3.5 jam saja ternyata lumayan membuat gempor. Apalagi di hari-hari pertama :). Herannya, tahun ini, musim panas di NYC benar-benar panas.  Cuaca 30an derajat biasanya sudah cukup bikin kita garing. Apalagi ditambah puasa. 

Dan UN pun tiada ampun hehehe. Di pertengahan Ramadhan, UN mengadakan  World Ocean Conference dan banyak pertemuan lainnya. Dan saya harus mengikuti semuanya. Alhamdulillaaaah.

Plus tahun ini, kami mengajak Bo et Obi untuk lebih serius puasanya. Sejak tahun 2014 lalu ga sudah puasa juga, tapi tidak full. Tahun ini, Bo sudah jauh lebih kuat dan alhamdulillah puasanya hanya sedikit yang batal. Itu pun karena ada pelajaran olah raga di sekolah yang pastinya membuat anak-anak menjadi haus.

Yang paling epic, kami pernah berpuasa lebih dari 17 jam saat di Jenewa :).

Rasanya baru selesai taraweh hampir tengah malam, ngga lama bangun untuk sahur karena azan Subuh berkumandang pukul 3 kurang. Walaupun rasanya agak-agak kayak zombie, tapi hampir 4 tahun di sana alhamdulillah puasa tetap semangaaaat! 


Tidak ada beduk dan azan berkumandang 


Senang mendengar beduk bertalu-talu menandakan waktu  berbuka?
Selalu menunggu suara merdu adzan dari masjid terdekat yang mengajak kita sholat dan berbuka?

Well, saat di luar negeri, ini adalah salah satu hal yang paling kami kangeni, terutama jika berada di negara-negara belahan Barat, di mana muslim adalah kaum minoritas.  Selain itu, di beberapa negara sekuler, mereka menerapkan peraturan yang tidak memperbolehkan berkumandangnya adzan maupun beberapa simbol keagamaan di publik. Saya ingat Swiss yang pernah menerapkan peraturan pelarangan dibangunnya minaret, misalnya. Peraturan ini diberlakukan bukan karena sentimen terhadap Islam, tapi lebih pada pengaturan umum agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang merasa terganggu dan diberlakukan bagi semua agama, bukan hanya Islam. So don't get it wrong :).

Di NYC, kami mengandalkan hape dan aplikasi adzan yang memang banyak tersedia di App Store. Kalau datang ke masjid, kita bisa mendengarkan adzan langsung, namun hanya di dalam dan tidak berkumandang di luar masjid. 


andalanku kalau mau berbuka :)


Jadi jangan salahkan kami yang sibuk mencari hape saat matahari sudah mulai gelap dan tanda-tanda maghrib sudah terlihat. Soalnya, adzan merdu yang ditunggu-tunggu ada di situ :).

Ngabuburit? siap-siap mental ya :)


Rasanya puasa tanpa ngabuburit itu kurang komplit ya. 

Ibarat belanja di Sephora tapi ngga beli lipstik #eeh.
Apalagi di jam-jam 'genting' saat menunggu beduk Maghrib, di mana kita sudah selesai dengan persiapan berbuka maupun ibadah lainnya. 

Tapi berhubung waktu dari Ashar ke Maghrib lumayan lama, kita harus kreatif mencari kegiatan yang bermanfaat untuk ngabuburit. And frankly speaking, going out during Ramadhan can be problematic. Apalagi NYC lagi hangat-hangatnya nih...well, seperti cuaca di Jakarta tapi jauh lebih kering. Yang artinya, membuat kita jadi jauh lebih haus :)).

Selain itu, godaan lainnya mana tahan euuy.

Soalnya, yang puasa kan hanya kita yang menjalani. Sisanya, they live their normal life as is. Jadi kalau banyak yang berpakaian seksi karena menyesuaikan dengan udara yang panas atau asyik makan minum merokok ya biasa saja. 

Kalau saya pribadi, karena sudah lumayan biasa, jadi ngga begitu terpengaruh. Kasihan anak-anak yang masih ceglak cegluk kalau melihat orang lain makan dan minum di depannya, atau suami mendadak menunduk kalau ada cewek seksi lewat sedang asyik running or jogging.

Walhasil, kami biasanya ngabuburit belanaj groceries atau sekalian melipir ke Woodburry Premium Outlet, hahahaha. Sukses main ke FO tiap minggu #gulityascharged.


serius belanjaaaa :)


Lebih seger liat Kate Spade, Tory Burch, Coach et Tumi sambil menunggu bedug kan :).




Berburu makanan halal


Memastikan makanan yang kita konsumsi halal adalah salah satu hal penting yang harus kita jaga, terutama di bulan nan suci ini. Kalau di tanah air, memastikan makanan halal memang mudah. But that's another story if you live abroad, particularly if moslems are not the majority.

Here in New York City, alhamdulillah kita tidak begitu khawatir mencri makanan halal.
Insya Allah terdapat banyak pilihan makanan halal, asalkan kita mau mencarinya. Memang tidak ada di semua tempat dan harus rajin bertanya, karena sertifikasi halal di sini tidak wajib dan tidak selalu dipajang di restoran.

food cart halal di dekat klinik kanker aku :)

Kalau sedang malas memasak sendiri, saya paling sering berbelanja di berbagai restoran maupun super market yang menjual makanan Indonesia yang halal dan pas di lidah. Untungnya Astoria, tempat kami tinggal, letaknya di Queens, yang notabene adalah kampung Indonesianya NYC :). Urusan perut et takjil aman deh!.


aneka jajanan di Indo Java, salah satu mini market nadalan kami :)

Seneng ngga ketulungan bisa melihat tahu isi, pempek, risol, mendoan, sampai onde-onde dan kerupuk dan sambal goreng pete yang sudah tinggal dinikmati :)




Kalau di Manhattan dan sekitarnya, memang agak sedikit lebih sulit dibandingkan di Queens, yang memang menjadi rumah bagi komunitas besar umat Muslim yang tinggal di NYC. Nanti saya buat postingan khusus untuk restaurant-restaurant halal yang ada di NYC dan sekitarnya yaaa.



Mencari masjid





Kalau di Indonesia, mencari masjid adalah perkara mudah. Bahkan musholla atau tempat khusus sholat di mall, sekolah, kantor dan di berbagai tempat pun pasti ada.


Here in New York City, we have a lot of mosques, but they are centered in certain area. Masjid di Kota New York sebenarnya banyak, sekitar 175 dan terus bertambah, kalau menurut sumber Google yang saya dapat. Tapi karena letaknya tersebar, kita harus tau persisi masjid apa yang ada di sekitar rumah atau kantor kita.

Di Astoria saja, sekitar rumah saya,  sebenarnya ada 9 masjid yang tersebar di beberapa blok dan area.
Walaupun kecil dan tidak terlihat seperti masjid, tapi gedung-gedung tersebut berfungsi sebagai masjid dnegan kepengurusan masing-masing. Ada komunitas Timur-Tengah, Asia Selatan, Bosnia-Herzegovina dan Eropa Timur, plus lainnya.

Kami biasanya datang ke Masjid yang dibangun komunitas Indonesia, Masjid Al-Hikmah, yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah.

Taraweh hampir tengah malam or beyond


Ini salah satu tantangan buat saya yang masih harus bekerja full selama Ramadhan dan sering kecapekan sendiri setelah pulang ke rumah.

Karena waktu isya masuk di atas jam 10 malam, saya seringkali sudah ketiduran tidak lama sesudah buka, lalu bangun tengah malam untuk lanjut sholat Isya dan tarawih. Sering kali saya bangun jam 2.30 untuk Isya dan tarawih. 

Tarawih semua saya lakukan di rumah bersama suami. 

Memang agak tricky..karena anak-anak sekolah pagi, kami harus bisa mengatur jam sholat, sahur, dan tidur anak-anak supaya puasa mereka maksimal dan tetap bisa mengikuti sekolah dengan baik. Kalau anak-anak tidak tidur sebleum jam 10 malam, saya pasti berantem deh bangunkan mereka di pagi harinya. 

Walaupun penuh tantangan, alhamdulillah bisa dimanage juga. 

Rasa kebersamaan yang makin erat


Di mana-mana, kalau sudah jauh dari tanah air, biasanya rasa kebersamaan dan rasa 'sesama orang Indonesia di perantauan' semakin kental.
Kangen dengan Indonesia itu  a powerful feeling lho.
Dan karenanya, saat Ramadhan maupun perayaan Idul Fitri, kita pasti akan mencari teman-teman dan keluarga besar Indonesia yang ada di New York City.
Masya Allah, bahagia banget bisa kumpul ramai-ramai, even with strangers or those you have never met before, karena tengah merayakan bulan suci maupun hari kemenangan.



Intinya, mari kita rayakan nikmatnya Bulan Suci Ramadhan di mana pun berada!




So, itu cerita saya berpuasa di tahun ke-empat di New York City.

Teman-teman punya cerita seru serba serbi puasa di luar tanah air?
Shareee ya.