WW: Rumah Betang ....West Kalimantan in a glimpse

Another beautiful face of Indonesia...


Rumah Betang
Rumah Betang..
the traditional house of Dayak people in Kalimantan, particularly the western part of it. 
Take a closer look at it and its beautiful details.

Here's West Kalimantan in a glimpse..for sure I'll come back with more stories :)







Join us on (almost) Wordless Wednesday and have a great bloghopping experience

When you lost your hair...

It's been quite some time  I enjoy my new hair style...
No hair at all :).



I guess I haven't really shared my story about my new look, although those who know me and have visited this blog several time might know that it happened along with my series of chemotherapy :).

Well, as you know...one of the most common side effects of chemotherapy is losing your hair. When I say losing here..it means losing all the hair in my body.

Waktu pertama tau bahwa saya ternyata positif menderita kanker payudara, rasanya shock banget. Apalagi ditambah dengan rangkaian pengobatan dengan dampaknya yang tidak tanggung- tanggung banyaknya. Saya sempat menulis mengenai dampak kemoterapi di sini.

Saat memulai kemoterapi bulan Oktober lalu, saya berjuang dengan rasa mual yang tidak tertahankan dan capek luar biasa yang benar-benar membuat saya tidur saja selama 2 hari pasca kemo. Memasuki kemo ketiga, tepatnya minggu kelima sejak pertama memulai kemo, rambut saya mulai berguguran.

Well, I have been warned. Dokter onkologist saya sudah wanti-wanti, kalau soal rambut rontok, baik sebagian dan seluruhnya, bisa menjadi sumber stress besar bagi mereka yang menjalani kemo. Apalagi mereka yang masih bekerja atau banyak melakukan aktivitas di luar.

Saya sempat berpikir...ah, masa iya? Masa semua rambut akan rontok? Dan bahkan berharap agar rambut saya yang lumayan sehat bisa bertahan. Lewat 2 kali kemo, rambut saya masih oke, hanya sedikit yang rontok. Dalam hati mulai terbit harapan kalau mungkin rambut saya bisa selamat dari gempuran racun ini. Tapi ternyata, masuk minggu kelima, rambut saya mulai bereaksi. Rontok yang tidak kira-kira..bisa satu genggam sekali rontok, bahkan tanpa saya tarik atau sentuh sekalipun. Dan di situ saya mulai stress. Rambut yang biasanya saya uwel-uwel seadanya  lalu diikat dengan karet tidak bisa lagi saya ikat karena saat mau membuka  karet, rambutnya ikut tercabut. Setiap di sisir, lebih parah lagi yang berguguran. Bahkan suami bilang kalau jadi terlihat  pitak  di sana sini.

Well, apa yang diperkirakan oleh dokter memang akhirnya terjadi. Dan ternyata, walaupun sudah diperingatkan, tetap saja saya kaget. Juga sedih.. karena walaupun rambut saya ngga bagus - bagus amat, tapi rambut adalah bagian dari identitas  saya selama ini. Masih ingat  kalau orang-orang terdepan saya memanggil saya Bob karena rambut hitam keriting  gimbal saya yang (katanya) mirip Bob Marley itu? Ditambah horornya perasaan saya untuk ngantor, sidang di UN, ngantor Bo et Obi ke sekolah dengan kepala pitak sana pitak sini.

I know we have tons of choices of wigs. But have you tried one? Not all of them are comfy...seriously. Well, if you want to have the good one, it costs you a fortune. It might look good for a minute or two, but to wear them on long hours like my working hours might be a bit tricky.

So, I came to the point that I would just go out and be me. My hubby, Rudi, ensured me that there's nothing to be worried about. 
The hair will grow back!
Yes..the hair will grow back!
I just have to let it go...

So, after taking Mba Ellen, one of my dearest colleagues who came back for good to Jakarta, a few days after my 2nd chemo, I decide to shave it. My hubby supported my decision and he even shaved his head too to show his strong support and unconditional love. So sweet of him...

Akhirnya saya pun memutuskan untuk mencukur rambut saya. Keputusan yang didukung penuh my munchkin Udi, yang juga ikutan gundul bareng dengan saya. Rasanya mau nangis waktu tau Udi juga bela-belain  mau rambutnya dicukur seperti saya. Juga waktu saya bilang ke Bo et Obi kalau rambut saya akan saya cukur habis. Tapi sepanjang dicukur, Udi sibuk bercanda dan menghibur saya yang akhirnya jadi cengengesan selama dipotong rambutnya.



You know what's funny...
Waktu Udi mulai mencukur rambut saya, sebenarnya kami sempat mencoba - coba model cepak yang ternyata malah membuat saya keliatan super aneh ;). Untungnya kami melakukannya  di rumah, jadi bebas deeeh...

aneh kan keliatannya berjambul begini :)


Dan setelah dengan telaten  Udi mencukur rambut saya hingga  gundul licin, saya malah suka melihatnya. Yuuup...it suits me fine!



Even with no hair, it feels like I'm more relieved. After being stressful looking at those hair falling down,  I feel more confident now. Well, in a way...

Selesai dicukur (dan mencukur rambut Udi), Bo et Obi langsung berebut  mau pegang kepala saya. They said I looked funny, but cool :).



Terus saya telpon mama via facetime. Dan mama justru yang nangis melihat saya gundul. Ah mama...jadi sedih kalau mengingatnya  kembali, karena mama langsung memanjatkan  doanya untuk kesembuhan dan kelancaran kemoterapi saya. Makasih banyak ya ma...it means a lot to me.

Penampilan perdana saya dengan 'rambut baru' adalah saat Making Strides against Breast Cancer di Central Park. 

getting ready for Making the Strides against Breast Cancer..

Meski kaget, teman-teman tim saya mendukung dan memberi semangat. Begitu pula dengan pimpinan dan teman-teman di kantor maupun kolega saya di UN. Well, many stare at me at the beginning bit it doesn't bother me. I usually tell them that I have cancer and they will either apologize for staring at me or simply say I look good with my hair style :)

What bothered me at that time was because it was the beginning of winter. And we happened to have crazy winter here in NYC. Complete with its freezing wind. With no hair, you can imagine how cold it was, even with the help of winter hats, beanies, scarf and everything you can name of :). But at the same time, I can be creative with those things as well :).

taraaaa....

One thing for sure, no more bad hair day for me. 
Alriteeee...

Bangun pagi bisa langsung loncat mandi tanpa sibuk memikirkan rambut mau diapain. Enak juga ternyata, menghemat waktu banyak. Saya hanya perlu ektra hati-hati dengan kepala yang tidak lagi memiliki pelindung alaminya plus memastikan kulit kepala saya juga dirawat dengan baik. Kulit kepala harus benar-benar diperhatikan lho..karena selain sudah tidak ada pelindungnya langsung, kelembabannya juga harus dijaga supaya tidak gatal.

And now, 2 months after finishing my chemo, my hair starts growing back :)
Can't wait to see how it looks later ..

Satu pelajaran penting yang saya dapat adalah betapa di balik setiap cobaan-Nya, ada hikmah yang bisa kita petik. Saya hanya perlu bersabar, percaya pada-Nya, bahwa skenario yang diberikan adalah yang terbaik. 

Kalau tidak kemo, mungkin saya akan terjebak dengan gaya rambut yang tidak pernah berubah sejak saya SMP. Cobaaa...ngga bangeeet kan...
Kalau tidak kemo, saya tidak pernah tau hati mulia dan doa tulus orang-orang tercinta di sekitar saya yang tidak pernah alpa memberi semangat.
Kalau tidak kemo, saya tidak pernah tau kalau Allah SWT mengarunia saya semangat tinggi dan rasa percaya diri yang besar.
Alhamdulillah...


So, when you lost your hair...
Live with it...embrace it :)

cheeers...





Revisiting Tanjung Putus, Lampung, Indonesia

Some more colorful pictures from my home town...

                        


















Where the sky is blue and the water is crystal clear...


And the soft sand just beautifully massage your naked feet...



Where two hearts resonate and vow their undying love...


To the love of the mother earth where our heart is forever bound...

Bo and I..


Enjoying the blue sky? Join us on Skywatch Friday then :)




Staten Island, here we comee...

One lovely Sunday and off we went to the Staten Island :)...

Staten island Ferry....
Senangnyaaaa kalau akhir pekan tiba. Kaki gatal kami langsung beraksi dan rasanya semua tempat ingin dijelajahi :). Tidak heran saat cuaca cerah seperti hari minggu kali ini, saya, Bo et Obi pun sibuk merencanakan petualangan kecil kami. Kali ini kami niat menggenapi  kunjungan ke 5 borough atau kecamatan di NYC. Setelah tinggal di Queens, kerja di Manhattan, main ke Brooklyn dan Bronx, tiba saatnya menyambangi the Staten Island. Karena Bapak sudah niat berdownhill ria dengan sepedanya tercinta di Cunningham Park, kami pun merencanakan perjalanan kali ini dengan moda transportasi umum. Dan memang mudah sekali :)...



As spring really lingers around, enjoyable weather is here to stay as well. So we decided to stroll around and visit the 5th borough in NYC, the Staten Island.

Manhattan, seen from the ferry heading to Staten Island...
You can either drive your car through Verrazano Bridge or take the subway 1 to South Ferry Terminal and hop on the free Staten Island Ferry.



We chose the second one  :).

Rudi was cycling in the Cunningham Park so we took the N train to Times Square to catch train 1 heading to a Whitehall Terminal. It's the last stop at South Ferry Terminal and make sure ride on the first 5 cars of the train to get off at South Ferry. They have the moving platforms only for the first 5 cars.


From there, we simply got up directly at the Whitehall Terminal to catch the Staten Island Ferry.

Whitehall Terminal...
And the ride is free!

Beneran...gratis lhoooo...

Yuuup...free ferry to take you to Staten Island.  And the ferry is really good. Clean, spacious, and comfy.

Saya langsung inget perjalanan kami dari Jakarta ke Lampung dan sebaliknya  yang sering kami tempuh lewat jalan darat plus naik ferry menyeberangi  Selat Sunda. Walaupun jarak  Manhattan - Staten Island lebih dekat dibandingkan Bakauheni - Merak, tapi kapal laut yang dipakai sama besarnya. Well, paling tidak menurut saya ya :). Tapi memang terasa beda kebersihan, kenyamanan  dan ketertibannya :). Don't get me wrong...saya justru rindu dengan perjalanan seru kami saat menyeberangi Selat Sunda menuju kampung halaman lhoooo...

Well, back to our trip to Staten Island...
It took around 20 minutes to go from Manhattan to this island.  
While we're on board, many have chosen to sit on the upper deck. Perfect spot to take pictures and wave Manhattan goodbye :)


We saw the US Coastal guard as well...

Liberty seen from the Ferry :)
Some even stay in the hurricane deck, the upper part of the ferry.

You know why?

Because they want to see the Iron Lady, the Liberty Statue :). 

Such a bonus to those who haven't got enough time or energy to get on board to go to the Liberty Statue and Ellis Island.

Ini salah satu alasan kenapa Staten Island Ferry selaluuuu sesak dengan penumpang. Karena on the way ke Staten Island, kita dapet bonus untuk liat Patung Liberty dan melewati Ellis Island :). Gratis pulaaaa..




Walaupun liatnya dari jauh, tapi kan lumayan bangeet bisa foto dengan later belakang Liberty dan gratis pula hehehe. Dan memang kapal ini penuh dengan turis-turis yang heboh banget foto the Iron Lady waktu lewat. Well, trip ini memang bisa jadi alternative yang oke banget buat mereka yang mau liat patung kebanggaan warga NYC tanpa perlu antri dari pagi untuk beli tiket dan naik kapal ke Liberty Island dari Battery Park, Manhattan maupun New Jersey.


Once we arrived at the Island, we strolled around the area. 
At that day, there was the 5-boro bike tour, so many were riding their bikes. And took the ferry back to Manhattan as well. 





We just managed to stroll around the Richmond Terrace, taking picture near Staten Island Borough Hall and the Supreme Court. They look pretty  awesome and with perfect weather, Bo et Obi were happily running around as well. 



Not long after that, we caught the ferry back to Manhattan and headed back home.


It was a lovely trip indeed :).

Anybody like to join us next time? 



WW: Viva Wastra Indonesia

I guess many of you have known already how I love Indonesian traditional fabrics.
If you see Indonesiaku, then wastra Indonesia section in my blog, you'll get more exposure on that :)

Starting from UNESCO-intangible-heritage Batik, to handmade and woven-with-love Tenun and Songket from various parts of Indonesia, I love them all.

I am such a huge faaan :).

To me, they are more than just a piece of cloth with vibrant colors and vivid patterns. 
They represent the beauty of my ancestors' wisdom, the true reflection of cultural heritage and values, including ancient norms and traditions. Some things that I sincerely hope will forever live and linger among us and the next generation. 
They are the labour of love from women who, at the same time, weave their social structure and identity in a crafty way.

And I, for the love of it, try to wear them all the time.

As I see my photo folders here and there, I found many of those colorful photos are stacking and not yet published. Where have you been, Indah?


Tenun Insana from East Nusa Tenggara..I got them from Atambua..

Let's see some of them here..and I will get back with more stories about those beautiful pieces of art. I still have to learn mooooore about those intricate patterns and their histories. They are so abundant that I sometimes confuse myself :).

Here are some from East and West Nusa Tenggara..


Tenun Insana ..also from Atambua...


From Atambua and Lombok, West Nusa Tenggara (the purple one)
From Bali...



Endek Bali....
Songket Bali....don't you just love them...
From Makassar...


Sarung Makassar...with its vibrant colors...

From Semarang, Central Java...


batik Semarang with Warag Ngendhog motive, from Semarang, Centra Java

Oh my... I still have sooo many more indeed. And as I said before, I just have to learn about them and I just realized how limited my knowledge about it. Let's dig up and I'll be back with more details :).


Join us on (almost) Wordless Wednesday and have a great linky time :)

Cherry Blossoms at Corona Park, Flushing Meadows, Queens

Cherry blossoms and spring are like pack and parcel. 
It beautifully comes together.

As this is our first spring in the Big Apple, forgive me for bombarding you with pictures of flowers here and there... 
I just can't fight it, taking picture all the time, in many corners of the city :).
They might look the same, but taken in different spots in NYC.

Mudah-mudahan belum boseeen ya liat postingan bunga di blogku ini. 
I know, I know...udah ada banyak yang cerita dan share mengenai musim semi di berbagai belakang dunia. Dan saya pun tidak Kuasa menolak hasrat hati untuk foto di sana sini dan jalan ke sana ke mari setelah lumayan lama 'disetrap' oleh musim dingin yang seriusan  dinginnya :). So, bear with me, okaaay ..

This time, I'll show you the cerry blossoms at Corona Park, Flushing Meadows, Queens.


As we couldn't visit Washington D.C on time for its famous annual cherry blossom festival, we looked for a closer alternative and voilaaa...we have one in our neighborhood!

Yuuup...

There, in Corona Park, Flushing Meadows, Quens..

Hanya berjarak kurang lebih 30 menit dengan mobil dari rumah, kami memang sering main ke Corona park. Apalagi karena taman ini letaknya satu kompleks denan Museum Queens yang pernah saya ceritakan di sini.


It was a bright lovely day and Bo et Obi just couldn't resist the temptation to play outside. Packing the toys, drinks and some munchies, off we went to the park just to be owed by the this particular spot filled with blossoming cherry trees...

Obi dan gayanyaaaa :)
Saya sebenernya penasaran sejak kapan festival yang identik dengan Jepang ini juga mulai marak dirayakan di negeri Paman Sam. Satu hal yang pasti, dari hasil ngintip di Wikipedia, Jepang  menghadiahkan pohon cherry ke AS di tahun 1912. Wooow...sudah lama juga yaa, sekitar 103 tahun yang lalu. Untuk merayakan persahabatan antara kedua negara, pohon-pohon ini awalnya ditanam di Manhattan, New York dan Washington D.C. Tempat yang di New York City namanya Sakura Park. Terus terang, saya sendiri belum pernah main ke sana...nanti mau dicari dan mampir aaah :).  Dan mungkin sejak itu, pohon cantik yang berbunga setiap awal musim semi ini jadi menandai pergantian musim yang indah. 

Bo was so happy to be outside...

So, as we arrived at this park, we immediately went to the cherry tree. 




It feels like we're in Japaaaan :0)
Although I haven't been there before...



Again, as I told you in my previous story, Missing the Alien at Flushing Meadow,  and Queens Museum in Winter, this area used to be the site of the 1964 World Fair. And apparently, the Japanese American Association of New York has presented these trees in conjuction to the fair.



Like Bo, Obi also enjoyed her time outdoor... 
She didn't forget to bring her Pinkie Pie from My Little Pony and both of them were having fun under, between and amidst the trees.




For sure, the cherry blossoms really worth a wait. After such a prolonged winter, we are now embracing oursleves in the world of vivid colors and bursts of happiness :)

The white one..

the Men in Black Tower at Corona Park...

Ada banyak tempat yang cantik dan penuh dengan cherry blossoms di NYC. 
Tapi saya baru sempat mengunjungi Corona park ini dan UN Headquarters. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan untuk melihat cherry blossoms di sekitar kota ini, seperti di Brooklyn, Central Park dan New York Botanical Garden dan juga New Jersey.
salam dari Bo :)...
Do you have cherry blossoms as well near you place? How do you like it?

Such an honor...

Dua bulan terakhir ini, saya bener - bener gedubrakan...
Well, memang saya orangnya pecicilan #sayamahgituorangnya, tapi gedubrakan kali ini benar-benar menyita waktu, pikiran dan energi.

Gimana ngga...dalam satu hari, paling tidak ada 4 tempat yang harus saya datangi.
Sekolahnya anak-anak (itupun hanya sekolah Abang Bo, karena Obi masuknya siangan hiiiks..), klinik kanker, UN dan kantor.

Judulnya dari Ditmars Boulevard, subway station, NYU Clinical Cancer Center, jalan kaki, kantor, jalan kaki, UN, jalan kaki, subway station, pulang. Lumayan juga lhooo...

Dan memang, karena dampak kemoterapi masih asyik ngendon di badan saya, rasanya badan pun remuk redam setiap hari. Bukan bermaksud curhat nan lebay yaah, but that's the fact. Kadang sedih kalau berpikir dulu badan dan kelakuan kayak Rambo, sekarang jadi Rinto (walaupun badan masih besaaar alias sehat hehehehe..). 

Semenjak  jadwal breast reconstruction saya keluar, segala persiapan pun mulai berlangsung. Mulai dari lab works, blood test, dan operasi. Operasi belum genap 3 minggu, saya sudah langsung rushing in memulai proses terapi radiasi. memang saya yang minta dipercepat, karena ada tanggung jawab pekerjaan yang harus saya selesaikan di bulan Mei dan saya harus melakukan beberapa perjalanan untuk itu. So, dokter memutuskan terapi radiasi selama 25 kali non stop, Senin sampai Jumat, tanpa interupsi. 

At the same time, we have the 14th session of the UN Permanent Forum on Indigenous Issues and Indonesia is one of the Observers here. Meaning..I have to attend the back-to-back meetings and the side events stretching out from early morning to evening.

Lucky me :)...

Tapi bermodalkan semangat, alhamdulillah satu persatu kegiatan ini bisa saya lakukan. Walaupun sambil geret kaki ke sana kemari, bangun ekstra pagi-pagi untuk nyiapin sarapan anak dan mengejar kereta, plus pulang malem karena menyelesaikan laporan.  Di sela-sela kehebohan a la sirkus ini, saya justru selalu menyempatkan diri untuk ngeblog dan update My Purple World sebisa mungkin. Blogging is like a therapy for my soul :)

So again, alhamdulillah, saya diberi rahmat semangat dan dukungan dari semua, termasuk teman-teman saya, para emak habat yang tergabung di Kumpulan Emak Blogger alias KEB yang kondang ituuuu.

Dan sungguh.... rasanya terharu ketika di awal Mei dapat anugerah tak terkira dari komunitas saya tercinta, Kumpulan Emak Blogger.
Mimpi apaaa coba dikaruniai Blog of the Month...

I just can't believe that I was chosen as one...

Alhamdulillaaah....

Waktu saya pertama found out bahwa My Purple World terpilih, saya sedang menyender ke dinding, minum segelas air putih, setelah baruuu saja selesai terapi radiasi yang lumayan melelahkan dan sukses membuat kulit saya gosong. Rasanya mau nangis, tapi sambil senyum selebar mungkin hahahaha...Bisa jadi orang-orang di sekitar saya yang melihat bingung sendiri yaaaa :).

keluar dari ruangan ini, ada kabar baik menunggu :)

But as I said before, blogging is like a therapy for my soul...

Ketika saya sedang capek, ngeblog somehow memberi suntikan energi baru. 
Ketika saya lagi 'ngehang' karena beban pekerjaan yang terkadang ngga kira-kira, blogging saves my mood.
Ketika perlu menyeimbangkan jiwa raga, melihat blog emak-emak yang luar biasa membuat ide-ide saya membuncah.
Ketika saya perlu tempat curhat dan konsultasi, ngeblog membuat saya bisa cerita dari A sampai Z.
Ketika kangen tanah air, ngeblog membantu menyalurkan rasa rindu itu.. 

Beneran lho...

Walaupun tentu saja saya masih harus banyak belajar dari teman-teman semua untuk menjadi blogger yang baik dan lebih baik lagi, tau etika, belajar banyak mengenai aspek teknis blogging dan masiiiih banyaaak lagi. Yang pasti, tambah teman asyiiiik dan terus semangat berbagi. Belajar blogging penuh cinta agar bisa memberi manfaat ke semua. Dan KEB sudah menjadi guru yang luar biasa untuk saya :).

Blogging with love will always be my motto :)

Terima kasih banyak, KEB sayang...
Sungguh satu kehormatan bisa selalu berbagi denganmu...

Salam sayang dari pojok NYC yang hiruk pikuk