On the road to Srikandi Blogger 2014 #3: The work I love...

This banner is beautifully designed by Shinta Ries and taken from HERE
#3: The work I love


I am baaack….
Baru episode ketiga, belum bosen kaaan! 
Saya seorang pekerja keras mak. Entah karena memang  sudah dari sononya, sejak muda (wekekek, sekarang udah tua dong yaah :D), saya tidak bisa diam. Sejak SMA, saya menjadi penyiar tamu di stasiun radio swasta di Lampung. Dan tidak terasa, hampir 7 tahun saya menjadi penyiar radio di Yudhistira FM, Lampung. Mau tau nama udara saya? Tebak doong! Hahaha.. It’s Ockty Margaretha :p..Jauh bangeeet yah. Tapi nama udara ini memang sudah dipilihkan Acara yang saya pegang adalah Expose, berisi tips hari-hari yang gado-gado, plus Music and Me, acara live request dalam bahasa Inggris. Begitu banyak pengalaman berharga yang saya dapat di sini, termasuk jaringan pertemanan yang kekal hingga sekarang dan kesempatan ketemu artis hits pada jaman itu :D. Ah, jadi kangen cuap-cuaaap…
Saya juga sempat mengajar bahasa Inggris di salah satu tempat kursus berafiliasi di Lampung. Mulai dari anak TK hingga pegawai kantoran, I was having sooo much fun learning English with them.
Dan kini, saya, dengan bangga, adalah seorang PNS sejati. Bangga banget siiih jadi PNS, kan gajinya kecil? Well, kenapa tidak? Saya ‘banting stir’ dari pekerjaan di perusahaan swasta asing yang telah lama saya geluti untuk menjadi PNS, karena saya merasa saya tidak memberi kontribusi apa-apa untuk merah putih yang saya cintai ini. Ada masa di mana saya merasa seperti robot, yang hanya tau kerja, kerja, dan kerja, hanya menjadi bawahan orang asing di negeri sendiri. No passion, no creativity, no life! So I said no way I was going to live like this….Gaji besar yang saya tinggalkan tidak menyurutkan langkah saya untuk keluar dan membulatkan tekad ikut ujian saringan dengan ribuan orang di Jakarta untuk menjadi salah satu dari 40 orang yag diterima (saat itu) menjadi Pejabat Dinas Luar Negeri alias diplomat. Cerita perjuangan saya ada di indahnnuria.blogspot.com juga dong! Mau tau rasanya menjadi diplomat? Hmmm…ceritain ngg yaaaa *winkwink….

What do you have in mind when you hear the word Diplomat? Sosok perlente yang selalu tampil rapi berjas, bolak-balik ke luar negeri, bicaranya bahasa Inggris terus, dan temannya melulu orang asing? Well, jawabannya ya dan tidak...maksudnya bukan itu saja. Yang pasti, sebagai wakil Indonesia di negara lain, seorang diplomat harus menjalani empat tugas utama, yaitu representing, atau mewakili Indonesia di berbagai forum dan memastikan kepentingan Indonesia tersuarakan; reporting, dalam arti mengumpulkan berbagai informasi yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara;  promoting, alias mempromosikan berbagai aspek tentang Indonesia kepada dunia; and protecting, senantiasa melindungi WNI dan Badan Hukum Indonesia di berbagai belahan dunia. Tuuuh mak…ngg gampang kan? Asli penuh tantangan dan dinamik, namun sangat menarik untuk dijalani. Tidak jarang saya terlibat dalam proses negosiasi dengan Negara-negara lain untuk isu-isu tertentu yang panjang dan melelahkan, bener-bener bikin frustasi! Tapi kalau ingat merah putih, rasanya semangat juang saya berkobar lagi.
Dan tidak terasa, sudah 11 tahun terakhir ini saya bergabung menjadi salah satu dari punggawa Negara di Kementerian Luar Negeri RI. Bertugas sejak tahun 2002, saat ini saya dipercaya menjadi Kepala Seksi bidang Pemajuan Hak-hak Sipil dan Politik di Direktorat HAM dan Kemanusiaan, Direktorat Jenderal  Multilateral. Sebelumnya, saya telah ditempatkan  di Perutusan Tetap Indonesia untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya (PTRI) Jenewa, Swiss pada tahun 2007 – 2011. Saya juga sempat menjalani masa-masa magang di Perwakilan Indonesia untuk Masyarakat Eropa (PRIME) di Brussel, Belgia pada tahun 2004. Saat ini, pekerjaan saya banyak berkutat pada isu HAM, khususnya terkait formulasi berbagai kebijakan, pemenuhan kewajiban dan penyebaran informasi maupun upaya membangun budaya penghormatan terhadap HAM, khususnya di bidang hak-hak sipil dan politik, dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat madani. Goodness, that sounds so serious....Tapi memang demikian adanya. Berbagai proses formulasi dan implementasi kebijakan terkait politik luar negeri dan pemajuan hak asasi manusi, yang terkadang sangat sensitif lagi dinamis,  menjadi menu sehari-hari.
Penempatan kami di Jenewa, Swiss, betul-betul menjadi masa pembelajaran yang luar biasa berharga. Berangkat bertiga (saat itu Obi belum lahir) di tengah puncah musim dingin yang merontokkan ‘badan Indonesia’ kami, keluarga betul-betul menjadi sumber energi utama saya. Tanpa asisten rumah tangga, kerja round the clock waktu Swiss dan Indonesia, jadwal sidang 42 minggu dalam setahun, dan  bahasa, budaya serta kebiasaan yang asing sukses menempa saya, Rudi, Bo et Obi menjadi keluarga mandiri
I have to admit, pekerjaan saya ini sangat menyita waktu, energi dan perhatian karena banyak persidangan, rapat, pertemuan dan tugas lapangan yang harus saya jalani. Here, time management merupakan hal penting yang hingga kini masih saya coba untuk kuasai. Juggling between pants, pans, pampers and laptop are not easy at all J. Tapi saya dan keluarga selalu berusaha mensyukuri semua nikmat ini, termasuk bergabung dengan kelompok angklung Le Sangkuriang di Jenewa serta manggung  dan ‘ngamen’ di Swiss dan Perancis, hingga melakukan perjalanan seru dengan grup Foto Kuliner (baca: tukang foto yang doyan makan :D), masih di Jenewa, ke berbagai tempat di sudut Barat terus ke Selatan Eropa hingga benua Afrika.
Btw, kalau mau mengintip aksi kecil saya di salah satu sesi UN Human Rights Council, 
silahkan klik di 
http://www.unmultimedia.org/tv/webcast/2012/02/indonesia-panel-on-right-to-freedom-of-expression-19th-session-human-rights-council.html

Ada video pendek juga tentang pekerjaan saya saat posting pertama di Jenewa...tinggal klik aja yaaa....


Selain itu, semua usaha saya memperjuangkan norma dan kerangka kebijakan di bidang HAM di forum multilateral dan internasional rasanya tidak lengkap jika tidak diterapkan secara nyata. 
This is the surroundings....

Bergabung dengan teman saya Oky Setiarso di Jakarta, saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk berbagi dengan adik-adik dari Kampung Pulo Kandang, Kelapa Gading yang tergabung dalam Kelas Belajar Oky (KBO), untuk memenuhi beberapa aspek dalam hak-hak mereka sebagai anak, yang kerap tercabik akibat kemiskinan. 


Mengajarkan bahasa Inggris, membantu pelajaran di sekolah, menerapkan budaya bersih, atau bahkan hanya sekedar berbagi cerita tentang cita-cita dan hal-hal praktis lainnya. 
Bersama dengan ibu anak-anak itu, kami juga mencoba menularkan semangat berwirausaha, agar lingkaran setan kemiskinan tidak lagi mejerat mereka dan keluarganya.


tetap cerah ceria di KBO Gading...




1 comment:

  1. Kereeeeeen,,, semangaT, sukseeesss eaaaaa,,,videonya gw suka tuh

    ReplyDelete

Soooo happy to have you all here :D....
Thanks for visiting my blog and feel free to comment but all direct links will be deleted.

Link hidup akan langsung saya hapus ya.

Enjoy!