Dunia yang layak untuk anak...

I love you, ma.....


Setiap hari, kalimat pendek ini yang  diucapkan oleh Bo dan Obi setiap saya berangkat atau pulang ke kantor, menelpon mereka,  selesai memasakkan makanan kesayangan mereka atau memakaikan baju kesayangan mereka usai mandi. 

Such a simple expression, yet it moves the world for me...

Anak memang anugerah...

Anugerah luar biasa dari Sang Maha Pemberi Kehidupan bagi kita orang tua dan individu yang dipercaya untuk menjaga mereka, mencintai mereka, tumbuh bersama mereka dan belajar mengenai kehidupan bersama mereka.

Kesederhanaan dan kepolosan anak-anak, paling tidak anak-anak saya, seringkali mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Juga sabar dan ikhlas. 
Betapa sering anak-anak mengingatkan bahwa bahagia itu sederhana.

Bisa tertawa lepas sambil bercanda dengan adik dan teman-teman...
Bisa bebas mandi sambil gosok gigi dan bernyanyi riang...
Bisa berlari ke sana ke mari sambil menjerit gembira...
Bisa duduk manis mewarnai gambar dan belajar menulis di kertas, buku, dan entah di mana mereka suka...
Bisa main games dan ngalahin Bapak :)..
Bisa bantuin mama buat kue dan masak nasi telur..
Bisa menikmati sekolah dengan damai...

Alhamdulillah...

Tapi saya tau, dunia tidak selalu semanis madu. 
Tidak juga selalu ramah dan aman untuk malaikat-malaikat kecil kita.

Masih segar dalam ingatan, betapa kita semua begitu tersentak dengan (lagi-lagi) berita megerikan mengenai kekerasan seksual yang menimpa anak-anak. Ya, saya yakin teman-teman tahu berita apa yang saya bicarakan. Rasanya kita semua menjadi marah, geram, sedih dan miris membaca berita pelecehan seksual yang terjadi di dalam lingkungan keluarga maupun komunitas yang begitu dekat kita, termasuk lembaga pendidikan.

Belum lagi fenomena anak jalanan yang masih menjadi isu besar untuk negeri kita tercinta ini. Eksploitasi anak dalam berbagai bentuk, termasuk prostitusi dan pekerjaan yang tidak layak, masih menjadi momok untuk sebagian anak-anak Indonesia.  Pendidikan dan akses kesehatan dasar seringkali masih menjadi barang mewah untuk mereka.  Belum lagi catatan berbagai tindak kekerasan dan pelanggaran yang dialami anak-anak Indonesia..

Jangankan untuk menyuarakan pendapat, memiliki akte kelahiran saja belum tentu terpenuhi. Jangankan untuk bermain, bisa bertahan hidup dari hari ke hari saja sudah menjadi perjuangan yang luar biasa. Jangankan untuk sekolah, bisa duduk tenang dan menikmati segenggam makanan saja sudah bersyukur...

Belum lagi jika kita melihat ke dunia luar sana...
Berapa banyak anak-anak yang menjadi korban perang, kekerasan dan kebrutalan konflik antarnegara, antarbangsa, antarsuku dan antaragama?
Berapa banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah, mendapat fasilitas kesehatan atau hidup di rumah yang layak?
Berapa banyak anak-anak yang kelaparan dan kurang gizi karena 
Berapa banyak anak-anak yang tersia-sia karena tidak ada yang memperhatikan nasib mereka....

Begitu banyak...masih terlalu banyak...

Padahal Konvensi Hak Anak telah disahkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1989 dan berlaku sejak tahun 1990.  Bahkan konvensi ini menjadi salah satu intrumen HAM internasional yang paling banyak diratifikasi oleh negara-negara anggota PBB dan paling cepat mendapat persetujuan serta pengakuan dari komunitas internasional
Padahal Indonesia sudah menjadi Negara Pihak untuk Konvensi Hak Anak sejak tahun 1996. Padahal Indonesia juga sudah punya UU Perlindungan Anak sejak tahun 2002. 
Padahal kerangka normatif itu telah pula dilengkapi dengan berbagai kebijakan dan rencana aksi, plus pembentukan Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Dunia memang tidak semanis madu dan tidak sesederhana kebahagiaan anak-anak.

Apakah memang sesulit itu untuk memastikan hak-hak anak dapat terpenuhi? Apakah memang mahal sekali harga kebahagiaan yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita? Apakah memang berat perjuangan yang harus dilalui untuk memberikan perlindungan bagi bocah-bocah lugu itu?

Saya tidak mungkin menafikan segala upaya yang telah dilakukan, baik di tingkat internasional, kawasan, dan nasional, untuk memenuhi segala hak dan kebutuhan anak-anak. Tapi harus diakui masih ada banyak sekali pekerjaan rumah untuk kita semua untuk memastikan anak-anak bisa selalu tersenyum menjalani hari-harinya. 

Dan itu semua harusnya membuat kita, terutama orang tua, menjadi lebih semangat untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati kita. Banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan, seperti menghormati pilihan anak-anak, memastikan pendidikan dan kesehatan mereka, memberikan mereka kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mendengarkan harapannya, mencintai mereka apa adanya...melewati waktu dan momen berharga dengan mereka...

Jangan pernah lupa...terlepas dari tugas negara untuk memenuhi berbagai kewajiban akan pemenuhan hak anak, kita pun punya kewajiban untuk mencintai mereka sepenuh hati.

Demi senyum dan masa depan bangsa juga dunia.. 

Demi sebuah dunia yang layak untuk anak.

Selamat Hari Anak Nasional

Penuh cita dan cinta untuk anak Indonesia...

8 comments:

  1. surat dari anak tercinta,,bikin hati meleleh,,jauh lebih meleleh ketika ayahnya mengungkapkan cinta,,,iya nggak mak,,???

    ReplyDelete
    Replies
    1. beneeeer bangeeet mak...rasanya daleeeem ;)


      Delete
  2. semoga semakin banyak anak yang bisa hidup layak dan mendapatkan haknya, ya, Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiin...memang itu cita-cita kita mak...semoga tercapai yaaa

      Delete
  3. Bener bgt anak itu anugrah bgt..meskipun kadang suka bikin gemes tp sehari aja ga denger teriakannya ada yg kurang ya mak rasanya ...
    #hugs for bo et obi ^-^

    ReplyDelete
  4. Semoga uu perlindungan anak bisa jalan bener2 ya mak...^^

    Btw so sweet banget bo obi :")...g sabar nanti raffi juga seperti itu \m/

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiiin Cha...mudah-mudahan begitu...tenang aja..nanti pasti Rafi akan jadi anak manis :)...

      Delete

Soooo happy to have you all here :D....
Thanks for visiting my blog and feel free to comment but all direct links will be deleted.

Link hidup akan langsung saya hapus ya.

Enjoy!