17 Jam Saja...



Ramadhan Kareem


"Mommy, is it the time yet?..."
Waktu sudah menunjukkan pukul 8. 20 malam. Dan langit mulai memperlihatkan semburat lembayung.
"Eleven more minutes, Bang...and better get yourself ready ...

Alhamdulillaaaah...
Sebentar lagi sudah waktunya berbuka...
Tidak sabar rasanya mendengar bedug.

Eh, nanti dulu...denger bedug di mana? 


Selamat menunaikan ibadah puasa yaaaaa :)

Tidak terasa, kita sudah memasuki hari ke-delapan di bulan suci Ramadhan kali ini.
Tahun kedua bagi kami untuk menjalani bulan penuh berkah ini jauh dari tanah air.

Seperti biasa, Ramadhan selalu membuat saya sukses menjadi melankolis.
Yah, agak-agak cengeng sedikit :)..
Soalnya rindu pada keluarga dan tanah air makin tak terperikan.
Berbagai hal sederhana yang biasa kita lakukan bersama di Indonesia memang hampir dikatakan sulit ditemui di New York, termasuk merdunya suara bedug yang bertalu-talu menandakan waktunya berbuka. 
Atau bunyi kentongan pak satpam di tiang listrik sambil teriak sahuuur sahuuur untuk membangunkan kita. 
Juga suara azan yang berkumandang dari speaker masjid di depan rumah, lengkap dengan bunyi kresek-kresek saat mikenya dinyalakan maupun hela nafas sang muadzin.
Belum lagi serunya ngabuburit, berburu takjil, atau taraweh bareng di masjid atau mushola dekat rumah.

I know... di jaman canggih seperti sekarang kalau hanya mau mendengar bedug atau azan, kita bisa mendapatkannya di smartphone kita. Berbagai aplikasi canggih bisa memberikan itu semua.

Tapi tetap tidak ada yang menggantikan syahdunya suasana Ramadhan di Indonesia. 

Don't get me wrong...
I'm not trying to complain about this holy month that only comes once a year. 
On the contrary, I feel so blessed to have the opportunity to devour myself again to all the goodness and blessings Ramadhan brings.

Tapi Ramadhan di luar tanah air memang berbeda, jika tidak bisa dibilang menantang :).
Misalnya Ramadhan kali ini.
Kebetulan di belahan bumi tempat saya berpijak saat ini tengah memasuki musim panas.
Musim di mana matahari bersinar dengan gagah dan senang berlama-lama menyapa kita.
Ya...siangnya panjaaaang aja :).
Walaupun banyak tempat lainnya, seperti negara-negara Eropa dan Skandinavia, misalnya, yang mengalami siang yang lebih panjang, tapi lumayan juga puasa di New York. Hampir 17 jam..atau tepatnya sekitar 16 jam 43 detik, kalau berdasarkan chart di bawah ini :)


NY urutan berapaaa yaaa...
pic is taken from here
Buat kita yang sudah terbiasa berpuasa, insya Allah kuat kok. 
Memang sepintas rasanya panjang sekali yaaa 17 jam, but once you are on it, you'll get used to it. 

Tapiiii...(kok tapi lagi sih ;p)...panjangnya waktu siang bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi. 
As you all know, di sini muslim memang minoritas, walaupun komunitas muslim sendiri banyak menyebar di seantero NYC, termasuk komunitas muslim Indonesia. Selama Ramadhan, kegiatan sehari-hari pun terus berjalan, termasuk bekerja, sekolah dan rutinitas lainnya. 

Di kantor saya sendiri ada penyesuaian jam kerja, menjadi jam 10 pagi - 5 sore. Buat saya, ini tidak begitu berpengaruh karena jadwal jam sidang di UN tetap samaaaa tuh :).  Jadi, meskipun teman-teman yang sedang tidak ada sidang pulang pukul 5, kami jam 6 sore masih berjuang :). Tapi di satu sisi, saya merasa terbantu karena waktu jadi terasa berjalan lebih cepat. Paling tiba-tiba merasa kenapa badan jadi lemes ya? Ternyata memang sudah malam walaupun masih terlihat terang benderang.

Kalau melihat orang makan atau minum mungkin tidak begitu mengganggu ya, paling tidak untuk saya. Untuk Abang Bo, seringkali ini menggoda sekali dan terlihat bahwa dia mencoba untuk menahan diri dari rasa lapar dan hausnya. Kebayang kalau sedang lunch break di sekolahnya. Hmmm...

Selain itu, mengingat sekarang tengah musim panas, pemandangan 'cantik' juga makin bertebaran, seiring dengan makin minimnya pakaian yang dikenakan oleh banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan. Buat saya, mungkin hal ini tidak begitu mengganggu karena saya memang jarang memperhatikan. Tapi suami saya sudah wanti-wanti untuk tidak (terlalu sering) mengajak dia jalan-jalan  untuk mengurangi godaan yang satu ini. Bukan karena dia suka ngintip-ngintip yang seksi-seksi, tapi karena memang mereka yang banyak berseliweran di depan kita :).
I will definitely support you on this, my munchkin.

Satu lagi tantangan yang cukup 'berat' untuk suamiku adalah melihat dan berada dekat orang yang merokok. 
Walaupun sebenarnya saya senang sekali kalau Rudi bisa total berhenti merokok, tapi ternyata yang satu ini masih perlu waktu #alasanaja. 

Godaan berikutnya yang dihadapi adalah cuaca yang tidak selalu bersahabat. 
Minggu lalu, cuaca tembus 90 derajat Farenheit atau sekitar 32 derajat Celcius. Kalau di Indonesia rasanya biasa aja ya cuaca segini, tapi di sini kok rasanya panas bangeeet. Jalan di atas aspal tuh seperti menyusuri oven yang tengah memanggang brownies (lebay bangeet yaaah :)). Jadi ingin ikut meleleh rasanya #eeeh. Mudah-mudahan ke depan panasnya agak lebih bersahabat. Pernah beberapa hari sempat hujan, tapi yang ada malah jadi sumuuuuk banget. Hehehe...ini kok tidak ada bersyukurnya ya :). Maaf ya Rabb...

Untuk Bo, bujangku yang berumur 8.5 tahun, puasa kali ini dan juga tahun lalu memang lumayan terasa. Apalagi Bo masih harus bersekolah hingga 26 Juni ini, baru kemudian libur panjang. Di sekolah Bo, ada beberapa murid yang juga berpuasa dan guru mereka sangat menghormati anak-anak yang tengah menjalani ibadah di bulan suci ini. Mereka diberi kebebasan untuk mengurangi kegiatan fisik mereka. Selama sekolah, Bo sudah 'bocor' dua kali. But other than that, Bo selalu menjalani puasanya dengan penuh. Alhamdulillaaah...juga lebih rajin sholatnya. 



Alhamdulillah juga Bo tidak pernah sulit bangun untuk sahur, paling tidak sampai saat ini :). Walaupun makannya tidak seberapa banyak, namun paling tidak no drama at dawn :).
Tapi seperti cerita saya di bagian awal, kalau sudah injury time alias makin sore, Bo juga makin rajin bertanya kapan waktu berbuka. Tidak jarang dia menjadi 'alarm berjalan' kami..karena rajin lihat jam dan bilang "yaaay...satu jam lagi.." atau.."yaaay, 5 menit lagi buka.." :). Dan ada yang lari duluan ke meja makan ketika azan berkumandang dengan merdu dari ponsel kami :p.

Bagaimana dengan Obi? 
Obi belum mulai puasa nih...walaupun kami sudah mengenalkan apa itu puasa dan mengapa kita menjalankan ibadah puasa. Berkali-kali Obi memang sudah bertanya puasa itu apa sih mah. Untungnya Obi juga tidak jail menggoda abangnya yang sedang puasa dengan makanan dan minuman. Mudah-mudahan Obi bisa segera mencoba berpuasa di bulan Ramadhan kali ini yaaa...Perjuangan kita mulai dengan membangunkan Obi sahur tanpa 'huru-hara' :)

So, bagaimana triknya menjalani ibadah puasa jauh dari tanah air dan keluarga besar tercinta? Boleh yaaa saya berbagi sedikit tips sederhanayang kami jalani selama di bulan suci yang penuh berkah ini.

1. Kuatkan niat..

Niat, niat, dan niat. Semuanya bermula dari niat. 
Hanya karena niat kita untuk bertakwa dan mohon ampun pada-Nya.
Kalau karena puasa kita menjadi lebih sehat, lebih kurus, dan lebih tenang, itu semua adalah bonus-Nya.
Hal ini juga yang saya coba camkan kepada anak-anak, untuk tidak lupa membaca niat berpuasa sebelum tidur, juga menjelang sahur. Dan tanamkan dalam hati bahwa kita berpuasa karena niat kita untuk menjalankan perintah-Nya dan mengharap ridho-Nya.

Seringkali teman-teman non-muslim saya, termasuk dokter di klinik kanker saya, tidak habis pikir bagaimana kita bisa kuat berpuasa di tengah musim panas seperti saat ini. Rasanya tanpa niat yang teguh ini, kita pasti kesusahan untuk menunaikan ibadah puasa.

2. Banyak minum air putih

Ini penting sekali...apalagi di tengah cuaca yang panas. Walaupun saya seringkali tidak bisa memaksakan minum air putih yang banyak saat sahur. Kalau waktu berbuka tidak begitu bermasalah karena waktu yang tersedia panjang. Biasanya saya mengakalinya dengan bangun lebih awal untuk sahur. Ini memberi waktu cukup untuk kami minum cukup air tanpa terburu-buru sehingga perut pun tidak kembung :). Saya juga selalu mengusahakan minum dengan alkaline water atau air dengan pH basa tinggi. Rasanya tubuh jauh lebih fit :).

3. Konsumsi buah-buahan dan sayuran segar

This is my favorite. Pernah coba berbuka dan sahur dengan buah-buahan segar?
Super duper yummy...
Biasanya saya mempersiapkan banyak buah-buahan dan sayur segar untuk sahur dan berbuka. Favorit kami adalah mangga, semangka, kiwi, rasberries, dan strawberries. Alhamdulilah saat ini sedang musim dan rasanya manis dan segar.

Saat sahur, saya mulai dengan buah-buahan segar, tunggu sekitar 15 - 20 menit, baru kemudian menyantap sayuran segar. Seringkali saya seling pula dengan protein. Saya memang mencoba menjalani food combining walaupun masih suka bandel :). Dengan tidak makan nasi atau karbohidrat saat sahur serta memperbanyak mengkonsumsi buah dan sayuran yang kaya serat, saya justru tidak begitu merasa lapar lho :). 
Bener deh...silahkan dicoba :).

4. Sesuaikan aktivitas fisik

I go a little easy on myself during Ramadhan. No more running around chasing the subway atau grasak grusuk dan becicilan sana-sini :). Saya masih terus naik transportasi publik kok di sini, yang artinya akan naik turun tangga, pindah stasiun dan sebagainya. Tapi tidak lagi lari-lari atau mengejar bus yang sudah kelihatan mendekat, misalnya. Jadi, walaupun kita menjalani banyak aktivitas, tapi disesuaikan dengan level energi kita yang agak terbatas. 

5. Lindungi diri dari sinar matahari terik

Saat musim panas seperti ini, sepertinya susah ya menghindari terik matahari. Tapi bisa koook :). Meskipun terlihat aneh karena orang di sini justru sangat menikmati sinar matahari yang mentereng sementara kita berjalan di pinggir dan mencari tempat teduh, saya mencoba menghindari kejamnya sinar matahari yang biasanya langsung sukses membuat kita haus :).

6. Tetap toleran

Saat kita berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim, maka banyak teman-teman non-muslim yang tenggang rasa dan toleran dengan kita. Saat kita menjadi minoritas, saya kok merasa kita yang perlu tetap toleran. Maksud saya, jangan mentang-mentang sedang puasa terus sebel dengan orang yang asyik makan minum di depan kita  atau gregetan liat rok mini bertebaran di subway. Dengan tetap menjaga hati dan berpikiran positif, kita malah bisa berpuasa dan beribadah dengan lebih khusuk.

Banyak warga non-muslim di NYC yang juga menghargai kita yang tengah berpuasa, walaupun banyak juga yang tidak begitu aware. Namun saat kita jelaskan, mereka biasanya mengerti. Dan tidak sedikit yang kagum, kok bisa kuat menahan lapar, dahaga, dan nafsu lainnya di tengah musim panas seperti saat ini :). Bukannya mau sok-sokan yah atau berbangga diri ya, tapi memperkenalkan segala perbedaan dan makna puasa ini justru membuat mereka pun menaruh respek pada Islam yang damai. Alhamdulillah saya tetap mengantar Obi menghadiri ulang tahun temannya yang non-muslim dan mengikuti graduation ceremony tanpa masalah. Hanya breakfast meeting saja yang lewat...soalnya kepagian :).

7. Nikmati ibadah puasa ini 

Kalau ini, saya serahkan kepada teman-teman untuk cara terbaik menikmatinya. 
Dan tentu saja memaksimalkannya dengan baik., dengan perbanyak ibadah, mendekatkan diri pada-Nya dan juga orang-orang tercinta. Aaah..saya jadi makin kangen dengan mama, adik-adik dan semua :).

Saya yakin bahwa kita bisa menjalani ibadah puasa kali ini dengan lebih baik dan lebih baik lagi dari Ramadhan sebelumnya. Setuju?

Selamat berpuasa yaaa semuaaaa...
Semoga kita semua bisa kembali fitrah usai menunaikan ibadah puasa di bulang yang lebih baik dari seribu bulan ini.

27 comments:

  1. Masya Allah. Aku selalu kagum sama teman-teman yang menunaikan ibadah puasa di luar negri, Mba. Yang pertama, waktunya lebih lama. Yang kedua, seperti Mba Indah bilang, muslim di luar negeri itu minoritas. Semoga Allah selalu menganugerahi kita kekuatan dan kesehatan. Happy fasting. Salam buat keluarga kecilmu ya, Mba. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaaah diberi ekstra kekuatan, semangat dan kesabaran dari-Nya, mak...happy fasting juga untukmu dan keluarga :)

      Delete
  2. Penuh tantangan bgd y mbak, udh siangnya lama, matahari tgh gagah2nya, pemandangan makin 'mini'2...
    Salut bwt bo, keren,
    Selamat menunaikan ibdah puasa y mbak, slm bwt bo jg obi, semuanya dah, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama yaaa mba...insya Allah semua berkah..

      Delete
  3. Ternyata di NYC, puasa penuh tantangan untuk musim ini ya Mbak. Bukan hanya tantangan menahan lapar dan haus, tetapi juga ada tantangan lain yang lebih dari itu seperti yang di sebutkan atas, mulai dari cuaca yang kaya di panggang di oven sampai bermunculan wanita yang memakai pakaian seperti kurang bahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa mas...kadang tantangannya bukan dari makan atau minum, tapi yang lain-lain..

      Delete
  4. saya bisa merasakan bagaimana rindunya kampung halaman di saat bln puasa sprti ini

    ReplyDelete
  5. saya pernah mendengar tausyiah di sekolah anak-anak. Katanya, muslim di Indonesia itu sangat beruntung:
    1. Setiap ramadhan, waktu berpuasanya konstan. Gak kayak di LN yang kadang panjang banget, kadang juga pendek banget. Tapi mau pendek atau panjang juga cuacanya bikin puasa tambah berat
    2. Di Indonesia, muslim itu mayoritas. Biar gimana kalau dilakukan bersama-sama pastilah lebih nikmat, ya

    Bersyikur banget kita yang berpuasa di Indonesia, ya. Dan sama kayak Mak Haya, saya kagum dengan semua yang berpuasa di LN dengan masyarakat islam yang minoritas

    ReplyDelete
    Replies
    1. betuuul mba...Indonesia itu alhamdulillaaah banyak berkah dan kemudahannya...

      Delete
  6. perjuangan di bulan ramadhan yang luar biasa ya mama Bo..semoga ibadahnya lancar selalu yaaaa

    ReplyDelete
  7. selamat berpuasa mak Insav
    terharu euy membayangkan puasa di sana, apalagi Lihat Bo, semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah SWT, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiiin yra...makasih tantee..doain Bo bisa terus yaaa...

      Delete
  8. Selamat Berpuasa Mak, Semoga tetap semangat sampai hari Kemenangan tiba dan merayakan bersama orang-orang tercinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiiin yra mbaaa...insya Allah kemenangan yang sama untuk dirimu dan keluarga..

      Delete
  9. Disinipun sudah mulai sulit mendengar suara bedug. Belum lagi di socmed sering dijadikan lelucon soal toa mesjid. Pdhl ngangenin jg kan. Mungkin di desa2 atau kampung masih banyak terdengar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba...ini hal sederhana tapi sangat dekat di hati..kalau sudah tidak ada baru kangeen..

      Delete
  10. Lama amat ya mak nunggu waktu berbukanya... belum lg udara cuacanya. Semoga lncar terus ya mak ... salam sayang buat anak anak ya

    ReplyDelete
  11. MasyaAllah mak Indah, luar biasa yah pengalamannya Ramadhan di belahan bumi yang sana. 17 Jam menahan lapas, haus, dan nafsu itu hebat banget, apalagi Bo yang masih 8,5tahun. Salut untuk bujangnya ya mak. Bener deh Ramadhan di luar menantang, apalagi temen saya yang di Swedia sekitar 20 jam puasa, tp dengan niat dan iman walaupun agak berat semua lancar jaya.

    Semangat terus buat mba Indah dan keluarga.

    Salam hangat,
    Zia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iy mba Zia..makanya bismillahirahmanirrahim aja..insya allah semua lancar dan sampai, walaupun memang lemas :)

      Delete
  12. Semakin banyak godaan, insya Allah semakin besar kadar pahala puasa kita mbak Indah.. Alhamdulillah saya enggak puasa di negeri Paman Sam, jadi enggak tergoda yang sexy bersliweran hahaha

    ReplyDelete
  13. Subhanallaaah....

    nyesek juga bacanya, I wish I could fly to NY and hug Bo

    Be patient ya abang Bo, you can do it boy! Go.. go.. go...!!

    *eeh lha ini kok fokus ma abang Bo doang .. maaf mamah Insav, ketjup

    ReplyDelete
  14. punya pengalaman puasa 17 jam, alhamdulillah kuat ya mak..

    ReplyDelete

Soooo happy to have you all here :D....
Thanks for visiting my blog and feel free to comment but all direct links will be deleted.

Link hidup akan langsung saya hapus ya.

Enjoy!