Bo et Obi's Diary: Kalau membersihkan jendela, kita menggunakan...

Okaaay...It's holiday time!

Tak terasa, sudah seminggu anak-anak menikmati libur yaaa...
 Friday last week, most of the Elementary School students here received their report cards..

Yaaaay...bagi rapor...
Tak terkecuali Abang Bo, who is now in the first grade.
Excited? pasti...apalagi terus terang, Abang Bo berjuang cukup keras untuk menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Mumpung anaknya masih libur, mamanya mau curhat niih..

Sejak kembali 2 tahun lalu, Bo memang benar-benar beradaptasi dengan bahasa, PR dan model kelas kita. Bo yang mengenyam pendidikan dini selama 3 tahun di Jenewa memang harus belajar banyak. Saat awal, Bo harus menyesuaikan bahasa dari Inggris dan Perancis ke bahasa Indonesia. Ada suatu masa, di mana temen-temen Bo di TK ngg ada yang mau ngomong dengnAbang Bo, karena bahasa Indonesia masih campur aduk...Terus, karena Bo masih gondrong waktu baru pulang, ada juag temennya yang nyangkain Bo perempuan...duuuh, nasib di Abang. Dan semua ini jadi berdampak stopnya Bo berbahasa Perancis (kecuali dengan mamannya ini..itu pun suka 'pura-pura' lupa...) dan langsung minta potong rambut. walaupun Bo banyak berbahasa Indonesia di rumah dengan kami, namun ternyata itu belum menjadi modal yang cukup untuk Bo bisa langsung menggunakannya di TK.

Untungnya, kemampuan anak-anak memang menakjubkan. Sama seperti spons, mereka cepat menyerap pengetahuan baru, terutama bahasa. Alhamdulillah, setelah lumayan lama menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, Bo sekarang sudah luwes berbahasa Indonesia sehari-hari. Memang, pergaulan dan TV membantu mempercepat proses ini,

Anyway...sekarang Bo sudah kelas 1 SD..
Sudah menjadi keputusan saya dan suami untuk memasukkan Bo ke SD dengan standar nasional di dekat rumah yang memang punya reputasi baik. Dalam arti, lulusannya memiliki nilai rata-rata yang baik, banyak yang masuk SMP Negeri favorit dan lingkungan sekolah menunjang. Selain itu, sepupu saya baru saja lulus dari SDSN ini dengan nilai baik dan masuk SMP Negeri favorit di Jakarta. Dengan testimoni dari sepupu maupun tanteku, kami pun setuju untuk memasukkan Bo di sini. Sebelumnya kamisudah tanya sana sini mengenai SD yang ada di sekitar rumah kami, bahkan datang saat open house. 
Abang Bo ...

Awalnya, Bo sempat minta melanjutkan SD di SD swasta yang satu yayasan dengan TKnya dahulu, karena teman-teman TKnya banyak yang melanjutkan sekolah di sana. Tapi setelah ikut melihat sendiri 'bakal' SDnya dan ngobrol dengan Atu Farah, sepupuku yang baru saja lulus dari sekolah yang sama, Bo pun setuju untuk sekolah di SDSN ini.

Dan mulailaaah masa-masa SD Bo yang penuh warna...
Meskipun di TK Bo sudah bisa membaca dan menulis, namun beban pelajaran dan pekerjaan rumah di SD memang jauuuh dibandingkan TK. Kelas 1 SD, Bo sudah banyak menggunakan LKS atau buku latihan tambahan, di luar buku cetak dan latihan di papan tulis dari Ibu Guru. Setiap hari ada PR dan langsung dikumpul ...Dalam sehari, tiga mata pelajaran yang harus dipelajari di sekolah. Lumayan juga untuk anak kelas 1 SD. Terkadang, masalahnya yang dihadapi Bo bukan karena ngg bisa menjawab pertanyaan, tapi karena sudah stress duluan melihat...

"Bo suka sekolah, tapi ngg suka PRnya...", suatu kala Bo bilang begitu....dan saya memang lihat, PR yang dikerjakan, terutama yang dari buku latihan, banyak yang merupakan pertanyaan terbuka yang bisa dijawab dengan logika, tapi ternyata jawabannya harus dihafal. Demikan juga saat ulangan, yang belum lama berlangsung. Jadi seringkali, jawaban yang diberikan Bo, sesuai dengan pengertian Bo, disalahkan :D. Semata-mata karena tidak sesuai dengan buku cetak.

Misalnya:
Habis bangun tidur, apa yang kamu lakukan?
Menurut buku cetak, jawabannya mandi. Jawaban Bo: bereskan tempat tidur. Jawaban Bo salah

Apa yang kamu gunakan untuk membersihkan jendela?
Jawaban Bo: elap (maksudnya lap :) ), tapi disalahkan karena jawaban yang benar adalah kemoceng (entah apakah karena ada di buku atau karena pilihan Ibu Guru).

Kenapa kita harus mandi?
Jawaban Bo: supaya wangi...tapi salaaah, karena jawaban yang benar adalah supaya bersih.

Saya ngga tau..apakah saya salah kalau mengganggap jawaban yang diberikan Bo sangat masuk akal dan benar juga?

Yang lucunya lagi...ada pelajaran PLBJ..yang intinya mempelajari aneka ragam budaya Jakarta yang kebanyakan berbentuk permainan tradisional. Tapi saat aku tanya, pernah dimainkan tidak Bang? Jawabannya ngg...tapi harus hapal dengan segala peraturan dan lagu yang dipakai dalam permainan-permainan tersebut.

Yang ada, Bo main ama mama di rumah, walaupun itu juga tidak maksimal karena mama Bo et Obi tidak mengetahui beberapa permainan yang ada di buku (beda zamaaan bow... :D)

Well, saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa...tapi rasanya kalau anak-anak dijejali dengan metode belajar menghapal, bagaimana dengan pengembangan kreatifitas dan kemampuan logika maupun analisis anak-anak nantinya. Menghapal itu perlu, tapi tidak semua mata pelajaran menggunakan metode ini.  Saya kalau belajar dengan Bo, pasti sambil main...walaupun Bo akan bilang "tapi Ibu Guru ngg begitu ngajarinnya, ma..." Sepertinya semua kok exact gitu..A is A, B is B...

See...
What missing here is the fun...the excitement and joy of finding and learning something new...of exploring the world...

Apalagi, kami harus sudah mempersiapkan diri untuk tugas berikutnya dan itu artinya Bo dan Obi akan berjuang untuk beradaptasi lagi dengan sistem yang baru di mana pun kami bertugas nantinya. Bukan tidak mungkin, sistem pendidikan yang dihadapi akan berbeda jauh dengan sistem di kita.

Saya sempat konsultasi dengan Ibu Guru..ngobrol banyak dan juga dari hati ke hati mengenai Bo di sekolah. Alhamdulillah nila Bo di raport untuk semester pertama ini tidak jelek, dalam arti di atas 74. Tapi saya lihat 'perjuangan" Bo dari ulangan pertama dia, ulangan harian, dan ulangan persiapan sebelum ujian tengah semester.

Awalnya memang ada beberapa nilai merah. Kalau hanya nilai, saya tidak terlalu concern. Tapi saya perhatikan, terasa sekali kalau Bo tidak 'nyaman' belajar di sekolahnya. Saya tanya dengan gurunya dan gurunya bilang Bo lebih sering diam dan tidak mau bertanya jika tidak tahu. Hmm, ini tidak biasa..saya bilang...di rumah, Bo has bold characters..cenderung menjadi 'leader of the pack' so to speak...waktu TK pun Bo aktif..nyanyi, main angklung, dan drama :D..jadi, kalau Bo pendiam, saya rasa ada yang ngg pas. waktu saya sampaikan hal ini kepada Ibu Gurunya, beliau seperti agak defensif dan 'mengingatkan' lagi bahwa beliau sudah 20 tahun lebih mengajar dan selalu memegang kelas awal. Okay, another note for me..

Well, anak memang pasti mengalami banyak perubahan dalam prose pertumbuhannya dan hingga saat ini saya masih terus rajin ngobrol dengan si Abang..supaya dia mau cerita, kalau memang ada yang mengganggunya. Saya harap Abang bisa benar-benar menikmati masa-masa belajarnya, mendapat manfaat, dan bukan hanyak sekedar pandai menghapal.  Saya harus akui, saya tidak selalu bisa mendampingi Bo belajar, tapi saya selalu mencoba untuk menemani Bo menyelesaikan tugas sekolahnya dan belajar.

Mungkin, banyak teman-teman yang mengalami masalah yang sama?

#edisicurcol...

30 comments:

  1. sama mak Indah, putriku Vivi juga mengalami ketidaknyamanan saat belajar di SDnya. Bukan di kelas 1 sih, tapi pas kelas 3 kemarin, sampe saya berdoa semoga secepatnya dia naik ke kelas 4 agar segera ganti guru. Ampun deh gurunyaa... walau tak semua guru senior begitu, tapi guru kak Vivi sungguh ajaib hehehee... ayo, tetap semangat belajar ya Bo...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah, itulah mak..suka dukanya jadi orang tua berhadapan dengan guru..moga2 anak2 tetap semangat yaaa...dan ngg trauma or kapok >_<

      Delete
  2. banyak faktor mengapa anak tiba2 menjadi pendiam di kelas,sedangkan dirumah dia baweeelll,cerewet,dll :D....mungkin habis bertengkar sma teman, dimusuhi teman, dijauhi teman, dimarahi guru (ex:nggak ngerjain PR, ribut dikelas,dll), ada masalah sama mama,papa,adek,kakak,dll....banyak kemungkinan,kalau misalnya guru g tau maslahnya dan jawabannya (ngeselin dan seharusnya g boleh bilang gitu ke wali murid :D),ada baiknya kerjasama antara guru dan wali murid, guru lebih sering bertanya (mancing,ngajak ngobrol,dll) siapa tau tiba2 anak keceplosan, kalo sm guru tetap diam, tugasnya wali murid (mama/papa) ajak ngobrol dari hati ke hati,siapa tau lama2 anak akan bercerita.. :D (sedikit uneg2 dari mantan guru beka :D)
    buat Bo' semangat ya nak,,,kamu pintar!!!^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih tante Hanaaa...makanya mama Bo et Obi selalu ngobrol ama anak-anak...dengan harapan ngga ada yang terlewat dan bisa jadi masalah lagi di kemudian hari..makasih tipsnya yaa....

      Delete
  3. waduh saya masih blum punya momongan mbak, maklum blum punya bini hihihi

    menurut saya sih mungkin masih perlu adaptasi lagi adik Bo dengan lingkangan tempat belajarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe...segeraaa yaaaa...betul, adaptasinya perlu waktu sepertinyaaa...

      Delete
  4. sama maak.. anakku jg kelas 1. Tiap hari PRnya banyak banget. Belum lg harus ngapalin doa2 dan hadist. Trus ulangan jg. Yg org gede aja puyeng, gmn anak2 ya? pasti bosen deh. Keknya kok berlebihan ya bebannya utk anak kelas 1 SD..
    Terus yg jwb2an pertanyaan itu. Klo mnrtku sih jwban anak2 itu ga salah. Dia kan jwb berdasarkan pengalamannya.. Lah klo disalahin mulu jwbannya, itu namanya membatasi kreatipitas anak ya maak...
    eh kok aku malah ikutan curhat disini.. hihihi
    yah bgitulah.. bkn cm anaknya yg perlu adaptasi, tp emaknya lbh perlu adaptasi jg.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu diaaa mak.....ngg selalu produktif lho kasih pr bejibun begitu...yg ada malah beteeee...yah, aku berusaha mengimbangi dengan tetap menekankan kreatifitas anak2 selama di rumah, biar ngg jomplang..

      Delete
  5. Kayaknya kalau kelas 1 SD, adalah kelas adapatsi sang anak, deh mba.
    Biarkan anak itu beradaptasi dulu.. kita kasih kesempatan di semester 2. JIka memang Bo masih kurang nyaman atau masih pendiem terus di kelas 2, berarti di sekolah itu atau di lingkungannya belajar ada yang membuatnya gak nyaman, dan patut dislediki *ngomong kaya orang tua nih hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa..makanya saya juga observasi terus...mudah-mudahan menjadi lebih baik..dan Bp tambah happy di sekolahnya...

      Delete
  6. Disayangkan sekali respon gurunya, malah 'pamer', seharusnya ia tahu dan peka sebagai pengajar dan fasilitator dalam kelas. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu salah satu yang saya sesalkan...defensive mode..

      Delete
  7. Isi curcolnya sama denganku Mak...kadang2 kalo baca hasil tes Bungsuku itu..suka dalam hati ..kenapa sih jawaban harus plek jiplek buku, padahal jawaban anak itu juga benar, seperti contoh di atas tadi...

    Harapanku sih, seiring dgn usia dan tingkat sekolahnya lambat laun bisa adaptasi yaa...# cuma kadang kecewa berat dgn hasil nilai dari gurunya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa mak Lies....seringnya begitu..padahal kita punya harapan besar dengan para guru untuk mengembangkan metode pendidikan yang lebih membumi..

      Delete
  8. Eh, sama! Anakku sampai nangis2 karena cara pengerjaan matematika yang dicontohkan bapaknya tak sama dg yg diajarkan bu guru. Anakku sekolah di SD negeri meski dekat rumah ada sekolah swasta yg keren milik Chevron. Waktu itu kami berkeras supaya anak2 bergaul secara heterogen. Bahkan nekad SD yg dipilih msh akreditasi B. Alhamdulillah selalu juara 1 meski tidak les sama sekali krn lagi2 kami berkeras anak2 cukup mendapat yg standar saja, pengembangannnya tanggung jawab kami. Skrg masuk SMP terbaik disini & tetap saja nangis2 kalau mengerjakan PR dg cara beda. Sudah seharusnya mind set guru2 diubah agar anak2 bisa berkembang lebih nyaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak Lusi..kenapa harus seragam teruuus...padahala kalau hasilnya sama, kenapa ngg ya...mudah2an anak-anak bisa tetap menikmati proses belajar mengajar di sekolah..

      Delete
  9. Jadi inget sama temen sekolah ku dulu mbak, baru pindah dari jepang dengan bahasa indonesia yg minimalis itu perjuangan banget sering nanggis karena binggung tapi akhir nya lancar jaya setelah setahun tinggal di indo.

    Salam buat abang bo, sukses terus :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiiiih ya...iya, bahasa jadi salah satu kendala terbesar..bukan berarti anak anak ngg ngerti, tapi lebih karena sudah nyaman dengan bahasa yang paling sering dipakai...thanks for stopping by..

      Delete
  10. aku bisa merasakan yg mba rasakan,,aku pengajar,,meskipun bukan skolah formal,,tp aku tipe yg anti jawaban dari kunci,,krna mnurutku pertanyaan non eksak punya banyak pilihan jawaban,,dn aku memang ngga pernah ngajarin untuk menghafal teori a adalah.... atau b adalah .... sepertinya skrg bukan zamannya lg,,krn anak2 sdh makin kritis dn kreatif cara berfikirnya,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. that's right mak...justru beberapa sisi kreatifitas anak yang seperti ini yang perlu dikembangkan,...karena memang akan sangat berguna di masa depan nanti..

      Delete
  11. Pertanyaan dan jawaban yang diinginkan oleh buku dan jawaban anak-anak memang berbeda, tergantung persepsi masing-masing. Gaya pertanyaan seperti ini memang merugikan ya Jeng.

    Semoga si ganteng segera dapat menyesuaikan dengan alam sekolah Indonesia
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak pakdheee...inilah, salah satu tantangan terbesar keluarga kami dengan model pekerjaan seperti ini adalah adaptasi anak-anak, baik di sekolah maupun lingkungannnya...mudah-mudahan anak-anak selalu semangat...seperti mama dan bapaknya :D...

      Delete
  12. kesian juga kalo anak2 banyak pe er ya jeng..

    Sistem Pendidikannya beda banget pastinya ya, abang Bo hanya butuh waktu untuk adaptasinya...

    ReplyDelete
  13. gak berasa seminggu sudah dilalui liburnya ya mbak. Maaf ya mbak Indah aku baru bisa berkunjung lagi, maklum anak2 liburan jadi susah untuk ngeblog :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih mama Cal-Vin..udah 1 minggu aja ya...nikmati liburannya...have fun ya maaak..

      Delete
  14. Mak, aku juga kurang sreg dengan pelajaran PLBJ, terutama cerita-cerita dewasa di dalamnya. Pernah ngomong ke guru Faruq juga. Tapi, PLBJ itu sampai sekarang masih saja dipakai dan isinya ya begitu itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betuuul...harus rajin-rajin protes dengan gurunya nih maaak...

      Delete
  15. kasian juga anak anak kalau terlalu di porsir belajarnya ......

    ReplyDelete
  16. anak anak juga butuh waktu istirahat ... sebaiknya jgn terus belajar ...

    ReplyDelete

Soooo happy to have you all here :D....
Thanks for visiting my blog and feel free to comment but all direct links will be deleted.

Link hidup akan langsung saya hapus ya.

Enjoy!